Seumur jagung juga belum
Tiba-tiba ke Bandung
Kau mau diculik?
Katamu tak pandai merayu
Lidahmu berdansa liurmu tumpah
Seperti api yang tak tahu malu
Mungkin dusta
Mungkin juga tidak
Tunggu sampai gembokku remuk
Akan kurobek petang agar tak datang lagi
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Wednesday, December 24, 2025
Monday, September 1, 2025
Menjadi Rumah
Tonggeret menjerit
Dingin dan pelan
Hujan tapi tak gelap
Ia dengarkan gelakku
Dan ia tampung air mataku
Perlahan ia menegakkan dinding,
mengisi lemari, menyalakan lampu,
memelukku hangat, menjadi rumah
Dingin dan pelan
Hujan tapi tak gelap
Ia dengarkan gelakku
Dan ia tampung air mataku
Perlahan ia menegakkan dinding,
mengisi lemari, menyalakan lampu,
memelukku hangat, menjadi rumah
Wednesday, April 9, 2025
Namamu dan Nafasmu
Selagi rembulan tersenyum
Ia membawa namamu dan nafasmu
Bermain-main di panggung rasa
Seperti hatiku masih kau genggam
Tatkala mentari memijarkan kenangan
Ia melapisi akalku dengan rindu
Bayangmu hadir, menari di pelupuk
Sejenak, lalu reda laksana hujan
Hingga tiba saatnya aku terpingkal lepas
Namamu tak lagi kusebut,
dan nafasmu tak lagi kurindu
Aku tak lagi inginkanmu
di sela-sela jemariku
Ia membawa namamu dan nafasmu
Bermain-main di panggung rasa
Seperti hatiku masih kau genggam
Tatkala mentari memijarkan kenangan
Ia melapisi akalku dengan rindu
Bayangmu hadir, menari di pelupuk
Sejenak, lalu reda laksana hujan
Hingga tiba saatnya aku terpingkal lepas
Namamu tak lagi kusebut,
dan nafasmu tak lagi kurindu
Aku tak lagi inginkanmu
di sela-sela jemariku
Saturday, March 1, 2025
Kebun Teh dan Kawah Belerang
Aku tak suka bepergian
Tapi di kebuh teh dan kawah belerang,
Kabut menutup segala dukacita
Kerisauan tertinggal di rerumputan
Luka-luka diperban senyuman
Membawaku ingin pergi lebih jauh
Aku tak suka berpuisi
Tapi di kebun teh dan kawah belerang,
Langit mendekat, awan bernyanyi
Angin menggamit namaku
Membisikkan asa di antara dedaunan
Membuatku ingin menggubah kidung
Tapi di kebuh teh dan kawah belerang,
Kabut menutup segala dukacita
Kerisauan tertinggal di rerumputan
Luka-luka diperban senyuman
Membawaku ingin pergi lebih jauh
Aku tak suka berpuisi
Tapi di kebun teh dan kawah belerang,
Langit mendekat, awan bernyanyi
Angin menggamit namaku
Membisikkan asa di antara dedaunan
Membuatku ingin menggubah kidung
Subscribe to:
Posts (Atom)